Penyebab Kekerasan Antar Pelajar

tawuran pelajar

tawuran pelajarDewasa ini banyak terjadi kekerasan antarpelajar, tawuran misalnya. Sebenarnya apa Penyebab Kekerasan Antar Pelajar. Dalam beberapa waktu terakhir ini, publik kembali dikejutkan dengan terjadinya tindak kekerasan yang dilakukan pelajar. Pasalnya tawuran antarpelajar SMA Negeri 70 dengan SMA Negeri 6 di kawasan Bulungan Jakarta Selatan telah memakan satu korban jiwa, yakni Alawy Yusianto Putra. Menurut keterangan H.R. Kompas (Senin, 24/09/2012), Alawy meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit Muhammadiyah setelah ditikam di bagian dadanya. Konflik antarsekolah yang bertetangga ini rupa-rupanya bukan untuk kali pertama terjadi, tetapi sudah berulangkali dalam beberapa generasi.

Apabila diamati dengan cermat, konflik antarpelajar merupakan tindak kekerasan yang tergolong kekerasan terbuka dan masuk ke dalam tingkat berat. Kekerasan tingkat berat yang dimaksud di sini adalah tindakan kriminal berbentuk kekerasan ofensif yang ditangani pihak berwajib, ditempuh lewat jalur hukum serta berada di luar kewenangan pihak sekolah (Abdurrahman Assegaf, 2004: 37). Sebagai suatu tindakan kriminal, prosesnya dilakukan melalui jalur hukum dengan melibatkan aparat kepolisian. Untuk itulah, pihak sekolah tidak memiliki kewenangan lebih dalam penyelesaian tindak kriminalitas tersebut, kecuali hanya melakukan konsolidasi internal untuk meredam gejolak agar konflik sejenis tidak terulang lagi.

Sekalipun kewenangan penyelesaian konflik tersebut sudah berada di tangan aparat kepolisian, tetapi tetap saja kekerasan antarpelajar itu telah mengundang keprihatinan dari banyak pihak. Institusi pendidikan yang selama ini diyakini sebagai lembaga agung dalam membentuk kepribadian pelajar telah tercoreng atas tindak kekerasan (kriminalitas) yang terjadi. Kenyataan ini jelas menambah daftar “raport merah” dunia pendidikan Indonesia dalam membentuk pribadi berakhlak mulia. Dalam situasi seperti ini, kritik dari pelbagai pihak datang bertubi-tubi. Di antara mereka ada yang menyebut sistem pendidikan nasional justru baru berhasil melahirkan para “preman berseragam”.

Sekalipun kritik tersebut dipandang berlebihan, tetapi tetap penting untuk diperhatikan. Mengingat, fenomena kekerasan antarpelajar saat ini bukan hanya menjadi gejala lokal, tetapi sudah menasional. Hampir setiap hari dapat dijumpai tindak kekerasan dalam lingkungan pendidikan dengan pelbagai bentuk dan juga tingkatannya yang berbeda-beda. Ada di antara tindak kekerasan yang dilakukan dengan tingkat ringan, sedang hingga berat. Kekerasan pada tingkat ringan berupa potensi kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan. Kekerasan pada tingkat sedang berupa perilaku kekerasan di lingkungan pendidikan. Sementara kekerasan tingkat berat, sebagaimana disebut di atas, menjurus pada tindakan kriminalitas. Beberapa tingkatan kekerasan tersebut mengundang pertanyaan: apa yang menjadi biang atas munculnya tindak kekerasan antarpelajar?

Biang Kekerasan Antarpelajar

Menurut hemat penulis, setidaknya ada dua faktor yang menjadi biang atas munculnya tindak kekerasan antarpelajar, yakni internal dan eksternal sekolah. Faktor internal yang dimaksud di sini adalah kondisi budaya anti perdamaian di sekolah yang sangat berpengaruh terhadap pribadi pelajar. Sangatlah disadari jika proses dan budaya pendidikan yang kurang pas dapat mempengaruhi tumbuhnya benih-benih kekerasan di sekolah. Tragisnya, budaya ini bukan saja dilakukan dalam bentuk perilaku, seperti pemukulan dan pelbagai kekerasan fisik lainnya, tetapi juga konteks dan struktur. Simon Fisher menyebut kekerasan konteks dan struktur ini sebagai tindakan berdasarkan sistem yang mengakibatkan penderitaan kepada orang lain (2001: 10).

Contoh nyata atas kekerasan berbasiskan sistem tersebut bisa dijumpai pada pelaku pendidikan, seperti guru maupun pelajar. Dalam proses pembelajaran misalnya guru biasanya membuat statemen yang mengandung kekerasan terselubung atas pelbagai kesalahan yang dilakukan pelajar. Bagi guru, statemen ini dipandang sebagai bentuk hukuman (punishment) agar pelajar tidak mengulangi kesalahan lagi. Namun bagi pelajar, pernyataan-pernyataan itu bisa dimaknai sebagai suatu tekanan batin yang mempengaruhi perkembangan psikologisnya. Dampaknya, rasa aman dan nyaman di dalam diri pelajar hilang akibat rasa takutnya yang berlebihan. Bukan tidak mungkin jika perasaan-perasaan demikian itu berubah menjadi “bom waktu” yang akan dilampiaskannya kepada pelajar lain.

Selain perlakuan guru terhadap pelajar, bentuk lain kekerasan terselubung juga kerapkali dijumpai dalam setiap kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) yang diselenggarakan setiap awal tahun ajaran baru. Di samping berfungsi sebagai media pengenalan lingkungan sekolah, kegiatan ini juga biasanya disusupi dengan sejumlah doktrin yang menguatkan sikap ashabiyah pelajar terhadap sekolahnya. Bukan tidak mungkin jika tingginya sikap ashabiyah memicu tumbuhnya benih rasa benci kolektif dan kecurigaan berlebih terhadap sekolah lain. Tatkala ada salah satu pelajar di sekolahnya merasa disakiti oleh pelajar di sekolah lain atau sekolahnya mengalami kekalahan dalam sebuah kompetisi, maka sikap ashabiyah menjadi pemicu aksi kekerasan. Ujung-ujungnya, tawuran antarsekolah pun tidak terelakkan.

Di samping itu, kegiatan MOS juga kerapkali memicu timbulkan aksi spiral kekerasan di kalangan pelajar. Spiral kekerasan yang dimaksud di sini adalah suatu tindakan kekerasan pelajar kepada yang lainnya sebagai bentuk balas dendam atas apa yang telah dialaminya di saat MOS sebelumnya. Tertutupnya pintu toleransi dalam diri pelajar senior pada juniornya kerapkali memicu rasa dendam tersendiri. Pelbagai ragam dan bentuk kekerasan yang pernah dilakukan pelajar senior kepada juniornya akan melahirkan kekerasan dalam langgam baru. Tindak kekerasan yang akan dilakukan pun bisa jadi lebih keras dari apa yang telah mereka alami sebelumnya. Bagi pelajar junior yang tidak dapat menerima perlakuan seniornya di saat MOS akan membentuk suatu komunitas sendiri. Pada titik inilah, muncul sejumlah gank atau club-club pelajar yang dibentuk untuk menjaga eksistensi dan martabatnya. Jika dibiarkan berlarut-larut, gank dan club ini dapat memacu tumbuhnya konflik horisontal antarpelajar di sekolah, terlebih saat di antara mereka ada yang mengalami pemalakan dan tindak kekerasan lainnya.

Sedangkan, faktor eksternal yang sangat mempengaruhi munculnya tindak kekerasan antarpelajar adalah situasi sosio-kultural yang telah berkembang di luar lingkungan sekolah. Narkoba, pornografi dan pornoaksi, miras, pergaulan bebas dan tayangan kekerasan yang ada dalam televisi merupakan masalah-masalah sosio-kultural yang mempengaruhi pribadi pelajar. Perlu dicatat bahwa banyak di antara pelajar saat ini adalah imitasi televisi. Artinya setiap tutur kata, gaya hidup, paradigma hingga perilaku mereka umumnya adalah cerminan dari apa yang telah dilihatnya berulang-ulang dalam tayangan televisi. Oleh sebab itu, menjadi wajar jika tayangan kekerasan yang disampaikan melalui televisi mampu mengkonstruk nalar berpikir mereka terhadap aksi-aksi kekerasan.

Aksi-aksi kekerasan yang diputar dan ditonton berulang-ulang dalam layar kaca rupanya memacu pelajar untuk melegalkan tindakan tersebut. Hal ini telah mengingatkan kita pada gagasan Johan Galtung. Dalam bukunya berjudul “Studi Perdamaian”, Galtung berpendapat bahwa di antara penyebab orang melakukan kekerasan karena ia dibesarkan dalam lingkungan yang setiap hari melihat tindak kekerasan (2003: 13). Gagasan ini menekankan pada pengaruh budaya yang cukup besar dalam mengkonstruk nalar pikir seseorang. Tatkala seorang pelajar terbiasa menonton aksi-aksi kekerasan, maka dirinya akan menjadikan tindakan tersebut sebagai sesuatu hal yang lumrah dilakukan. Faktor eksternal inilah yang menjadi tantangan maha berat yang dihadapi dunia pendidikan.

Oleh sebab itu diperlukan langkah-langkah strategis dalam mengatasi tindak kekerasan yang dilakukan pelajar. Adapun langkah yang dapat dilakukan adalah pembenahan lingkungan pelajar. Dalam hal ini, pendidikan perdamaian perlu dijadikan sebagai budaya yang junjung tinggi oleh semua warga sekolah. Setiap guru maupun pelajar di sekolah perlu membangun budaya empati, sopan santun, menghargai dan menghormati perbedaan, moralitas yang tinggi serta sikap tolong-menolong antarsesama. Kegiatan MOS pun juga perlu mendapat perhatian serius, sehingga setiap pelaksanaannya dapat menguntungkan bukan malah merugikan pelajar. Munculnya gank-gank dan club-club pelajar yang menjurus ke arah tindak negatif juga perlu sedini mungkin diamputasi!

Selain itu, orangtua dan masyarakat juga diharap agar bisa membantu pihak sekolah dalam mengawal perkembangan peribadi pelajar, khususnya dalam hal perilaku mereka yang cinta damai. Keterlibatan ketiganya secara intensif dalam mengawal perilaku pelajar diharapkan menjadi benteng dalam mengurangi tindak kekerasan. Bagaimana pun, kekerasan akan melahirkan kekerasan baru! Karena itu, setiap pelajar harus dididik dengan budaya cinta damai (anti kekerasan). Jika tidak, jangan harap aksi kekerasan antarpelajar, sebagaimana telah dilakukan oleh pelajar SMA Negeri 70 dengan SMA Negeri 6 Jakarta Selatan, dapat hilang dari dunia pendidikan kita. Sebab perilaku mereka tidak lain adalah cerminan dari aksi para “preman berseragam”! — Farid Setiawan (Sekretaris Majelis Dikdasmen PWM DIY) —

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Penyebab Kekerasan Antar Pelajar”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *