Kemukjizatan Al-Qur’an : Astronomi

 

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT pada satu waktu tertentu, yaitu diturunkan pada masa jahiliyah, lebih dari 14 abad
yang lalu. Ia juga diturunkan kepada masyarakat tertentu, yaitu orang
arab yang mendiami kota mekkah.Walaupun demikian, Al-qur’an
diperuntukkan bagi seluruh umat manusia; dari dulu, kini, hingga yang
akan datang[1]. Sejak periode awal hingga sekarang, al-qur’an
sebagai kitab suci agama islam kerapkali dihujat dan diragukan akan
kebenarannya. Benarkah al-qur’an itu kalam illahi? Jangan-jangan
al-qur’an ini hanya rekaan Muhammad saja. Pertanyaan di atas, yang
meragukan kebenaran Al-qur’an sering datang dari para orientaris dan
musuh islam yang ingin menghancurkan umat islam. 

Al-Qur’an yang merupakan mukjizat istimewa yang dianugerahkan kepada nabi kita Muhammad SAW.
Mukjizat adalah kejadian luar biasa yang dianugerahkan Allah kepada
para utusan-Nya dan bukti kerasulan mereka. Mukjizat ada yang bersifat
material sehingga dapat dicerna oleh panca indra, dan dalam jangka waktu
tertentu terkesan melawan hukum alam yang ada. Namun, seiring dengan
kemajuan cara berfikir manusia, perlahan tetapi pasti dapat dijelaskan
secara filosofis maupun ilmiah. 

Mujizat yang dianugerahkan kepada nabi Muhammad, berupa Al-qur’an yang menjadi pedoman hidup (Nidham al-hayah)
bagi umat islam tidak mungkin tidak bisa dipecahkan rahasia-rahasianya.
Untuk itulah, mujizat berupa Al-Qur’an ini perlu secara terus menerus
dikaji secara mendalam agar kebenarannya dapat menerangi alam semesta[2]. Alhamdulillah, hingga kini telah banyak usaha untuk menjelaskan Al-qur’an berdasarkan aspek ilmiah. DR. Zakir Naik, DR. Maurice Bucaile, DR. Gary Millar, Prof. Shamsar Ali serta beberapa ilmuan muslim lainnya telah memberikan kontribusi mereka. 

Melalui penelitian ilmiah, proses yang
berkesinambungan dan berbagai penemuan baru selalu memberikan kontribusi
dan memperkaya pemahaman mengenai aspek ilmiah Al-qur’an (telah
diketahui bahwa setidaknya seperenam ayat-ayat Al-qu’an penuh dengan
fakta-fakta ilmiah) [3]. Kita telah menyaksikan bahwa pengetahuan
yang telah dicapai sains modern sudah dijelaskan oleh Al-qur’an 1400
tahun sebelumnya. Penemuan ilmiah akan terus berlanjut hingga hari
kiamat, maka aspek-aspek ilmiah Al-qur’an akan semakin banyak
terungkap. 

Ilmu Pengetahuan Modern dan Al-qur’an

Perkembangan Ilmu pengetahuan begitu pesatnya yang semula hanya berakar dari satu sumber yaitu filsafat,
dan saat ini ilmu pengetahuan menjadi beraneka ragam. Berkembangnya
ilmu pengetahuan, dikarenakan manusia selalu berpikir dan tidak pernah
berhenti untuk berpikir demi kepentingan umat manusia. Dalam upaya
memecahkan masalah-masalah kehidupan ini, yang dapat
dipertanggungjawabkan secara etis, penelitian ilmiah perlu terus
dilakukan oleh para ilmuwan dengan tidak meninggalkan moral dan agama[4]

Fakta sejarah menunjukkan
bahwa perkembangan ilmu pengetahuan modern saat ini bermula dari
pengembangan metode empiris oleh para ilmuwan muslim, ketika Eropa
sedang dilanda kegelapan peradaban di abad pertengahan. Tentu saja para
ilmuwan muslim mendasarkan setiap kegiatannya pada ajaran islam
(Al-Qur’an dan Sunnah)[5]

Al-Qur’an dalam kaitannya dengan
pekembangan ilmu pengetahuan, Al-Qur’an telah menambah dimensi baru
terhadap studi mengenai fenomena jagad raya dan membantu pikiran manusia
melakukan terobosan terhadap batas penghalang dari alam materi[6].
Al-Qur’an membawa manusia kepada Allah SWT melalu ciptaan-Nya dan
realita konkret yang terdapat di Alam semesta. Inilah yang sesungguhnya
dilakukan ilmu pengetahuan, yaitu mengadakan observasi, lalu menarik
hukum-hukum alam berdasarkan observasi dan eksperimen[7]. Ilmu
pengetahuan dapat mencapai yang Maha Pencipta melalui observasi dan
eksperimen, yang teliti dan tepat terhadap hukum-hukum yang mengatur
gejala alam, dan Al-Qur’an menunjukkan kepada realitas intelektual yang
Maha Besar, yaitu Allah SWT lewat ciptaan-Nya. 

Keajaiban Al-Qur’an | Astronomi

Penciptaan Alam Semesta

 

أَوَلَمْ
يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا
رَتْقاً فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
أَفَلَا يُؤْمِنُونَ -٣٠

Dan apakah orang-orang yang kafir
tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah
suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. dan dari air
kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada
juga beriman?[8] 

Bukti-bukti ilmiah sains modern menunjukkan bahwa alam semesta pada mulanya adalah satu kesatuan yang padu. Kemudian peristiwa alamiah terjadi dan mengakibatkan alam semesta terpisah[9]. Proses kelahiran alam semesta ternyata telah dimulai sejak sekitar 18 miliyar tahun yang lalu, yaitu sebelum terjadinya ledakan kosmis yang sangat dahsyat dari sebuah titik singularitas, ledakan itu dikenal dengan peristiwa Big Bang yang terjadi sekitar 13,7 Miliar tahun lalu[10]

Peristiwa Big Bang yang telah dikemukakan oleh Goerges Lemaitre, George Gamow pada tahun 1930-an, dan Stephen Hawking pada tahun 1980-an telah menjelaskan kejadian awal alam semesta[11]. Teori Big Bang
adalah toeri yang menjelaskan bahwa alam semesta awalnya tersusun dari
titik yang sangat rapat, padat, dan panas yang disebut dengan titik
singularitas, dari titik inilah ledakkan kosmis mahadahsyat (Big Bang) itu terjadi[12].
Setelah terjadinya ledakkan yang sangat dahsyat itu, alam semesta
mengalami pemekaran dan menjadi dingin, kemudian muncul yang kita kenal
sebagai galaksi, bintang, planet dan sebagainya[13]

Pada tahun 1948[14], George Gamow dan Muridnya, Ralph Adler, menyimpulkan bahwa jika teori Big Bang memang benar, pasti ada fosil yang tersisa, sebagaimana diutarakan Holye (penentang teori Big Bang). Menurut mereka, radiasi latar belakang tingkat rendah pasti ada disegala arah karena setelah Big Bang, alam semesta mulai berkembang ke segala arah, radiasi tersebut tersebar keseluruh penjuru. Pada tahun 1965[15], dua orang ilmuwan terkenal Arno Penzias dan Robert Wilson,
menemukan radiasi berlatar belakang kosmis yang berasal dari setiap
benda langit, sebagimana bentuk radiasi yang telah dibayangkan oleh Gamow dan Muridnya. Penemuan tersebut, telah menghantarkan Arno Penzias dan Robert Wilson mendapatkan hadiah nobel dibidang fisika. 

Setelah Arno Penzias dan Robert Wilson, Penjelajah Latarbelakang Kosmik (Cosmic Background Explorer, COBE), diluncurkan ke angkasa pada 1989. Data yang diterima dari COBE membernarkan temuan Penzias dan Robert[16]. Sisa radiasi yang ditemukan Arno Penzias dan Robert Wilson, serta data satelit COBE menunjukkan adanya Big Bang. Sangat menakjubkan 14 abad yang lalu, peristiwa Big Bang di atas telah dijelaskan oleh Al-Qur’an dengan sangat bijaksana dan indah[17]. Allah SWT berfirman bahwa ” langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya “. Ungkapan padu dan pisah[18], “padu” dalam bahasa Arabnya disebut ritqun, hal itu menunjukan satu kesatuan yang sempurna dan padat. Sedangkan ”pisah” dalam bahasa Arabnya disebut Fatqun,
maka hal itu menunjukan pecahnya satu kesatuan itu, yang diakibatkan
satu ledakan dahsyat yang mengandung energi yang sangat besar. Ternyata Al-Qur’an telah menyajikan informasi dengan sangat akurat jauh sebelum teori Big Bang itu ada. 

Bumi Berbentuk Bulat Telur

Pada masa lalu, keyakinan yang menjadi pendapat umum pada saat itu, menyatakan bahwa bumi itu datar dan bertepi.
Namun lama kemudian, ternyata kenyakinan mereka bertentangan dengan
fakta yang telah mereka temukan sendiri. Selama berabad-abad, sekalipun
orang telah berpergian jauh, mereka gagal menemukan tepi bumi. Sir Francis Drake merupakan orang pertama yang membuktikan bahwa bumi itu bulat, yakni ketika dia berlayar mengelilingi bumi pada tahun 1597[19]

Bukti yang mereka dapatkan, adalah
bagian atas dari kapal laut yang terlihat lebih dahulu dari bagian
bawahnya. Mereka berfikir, kalau sekiranya bumi tidak berbentuk bulat,
maka kedua bagian akan terlihat dalam waktu bersamaan. Bukti lain yang
mereka dapatkan adalah lengkungan langit yang akan terlihat bulat pada
jarak terjauh dari yang dapat dillihat oleh mata mereka di atas
permukaan lautan[20]. Mereka tidak mengetahui, bahwa Al-Qur’an telah menyatakan hal yang sama, pada abad ke 7 masehi yang lalu. Allah berfirman;

خَلَقَ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى
النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ
وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ
الْغَفَّارُ -٥

Dia menciptakan langit dan bumi
dengan (tujuan) yang benar; dia menutupkan malam atas siang dan
menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan,
masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah dialah
yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun
[21]

Kawwara adalah kata yang
digunakan untuk menunjukan bahwa bumi berbentuk bulat. Kata kawwara
artinya menutupkan atau melilitkan, sebagaimana sorban dililitkan di
kepala, menutupi atau melilitkan siang dan malam hanya dapat terjadi
jika bumi berbentuk bulat. Bumi sebenarnya tidak benar-benar bulat
seperti bola, akan tetapi geo-spherical (geoidal)[22]. Ayat suci berikut ini menjelaskan tentang bentuk bumi dengan sangat jelas;

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا -٣٠

Dan setelah itu kami membuat bumi dalam bentuk bulat telur[23].

Kata Arab untuk bulat adalah dahaha, yang artinya telur burung unta (kata Arab dahaha oleh para penerjemah diterjemahkan dengan “menghamparkan”, terjemahan ini juga betul)[24]. Prof. Dr. Suleyman Atec[25],
mantan kepala Departemen Agama Turki, memberikan defenisi untuk kata
tersebut, kata dahaha berarti membentang, memberi (sesuatu) bentuk
bulat, kata dahaha juga didefenisikan sebagai permainan yang dimainkan
kenari. 

Maksudnya, Allah telah telah menciptakan bumi dengan membentangkannya dalam bentuk seperti lonjong (bulat) telur[26].
Pengetahuan manusia tentang bentuk bulat bumi mengalami perkembangan,
dengan kemajuan teknologi, para ilmuwan telah berhasil mengambil gambar
sesungguhnya dari bentuk bumi yaitu bulat telur sebagaimana telah
disebutkan oleh Al-Qur’an 1400 tahun yang lalu. 

Alam Semesta yang Berkembang

وَالسَّمَاء بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ -٤٧

Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami benar-benar meluaskannya[27]

Keadaan alam semesta telah menjadi
perdepatan panjang dan seru selama beberapa dekade, apakah alam semsesta
tak terbatas? Atau ia terbatas dan dalam keadaan diam (tetap). Newton percaya pada jagat raya yang tidak memiliki batas dan statis[28], begitu juga dengan Albert Einstein bersama para fisikawan (awal abad ke 20) menyakini bahwa alam semesta itu diam[29],
sekalipun toeri yang dia kembangkan bagi toeri relativitasnya pada
tahun 1917 menyatakan bahwa ruang angkasa sesungguhnya bergerak atau
berkembang, sebagaimana yang telah ditemukan oleh Alexsander Friedmann dan Goerges Lamaitre. 

Mendasarkan peneltiannya pada rumus Einstein, Alexander Friedmann, ahli fisika Rusia, menemukan bahwa alam semesta berkembang. Goerges Lamaitre,
merumuskan bahwa alam semesta diawali oleh suatu ledakan dahsyat sebuah
superatom kecil, seperti tumbuhnya pohon ek dari buahnya. Teori ini
menjelaskan pemekaran galaksi dalam kerangka kerja toeri Albert Einstein tentang relativitas umum[30].” 

Edwin Hubbel (1920-an), dengan teleskop canggihnya di Observatorium Mount Wilson,
dia mengamati bahwa galaksi-galaksi saling menjauh, yang membuktikan
bahwa alam semesta mengembang. Pada tahun 1950, teleskop dengan
perbesaran tinggi, instrumen terbesar dalam jenisnya, dipasang di Mount Palomar, AS. Hasil pemuan baru membenarkan pengamatan Hubbel[31]. Setelah apa yang ditemukan oleh Hubbel dan
diperkuat oleh penemuan baru yang membenarkan penemuan Hubbel tersebut,
Einstein, akhirnya mengakui dalam sebuah konferensi bahwa Lemaitre
benar, kemudian dia mengatakan bahwa toeri Cosmological Constant adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya[32]

Al-Qur’an telah
menjelaskan fakta ini 1400 tahun lalu, manusia tentu membutuhkan data
ilmiah yang terakumulasi selama masa yang sangat panjang dan memerlukan
teleskop yang canggih. Al-Qur’an menyediakan jawaban untuk
masalah-masalah ilmiah paling rumit. Obsevasi yang dibuat dengan
teleskop dewasa ini membenarkan pernyataan Al-Qur’an[33]

Garis Edar

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ –٣٣

Dan dialah yang Telah menciptakan
malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu
beredar di dalam garis edarnya
[34].

لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ -٤٠-

Tidaklah mungkin bagi matahari
mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan
masing-masing beredar pada garis edarnya
[35].”

وَالسَّمَاء ذَاتِ الْحُبُكِ -٧

Demi langit yang mempunyai jalan-jalan[36]

Tiga ayat di atas mengambarkan, setelah terjadinya ledakan besar
dan gugusan benda-benda langit terbentuk, maka tiap benda langit tidak
secara sendirian bergerak dan berjalan. Akan tetapi, masing- masing
terkait dengan benda langit lainnya dalam satu gugusan kosmik yang
mengagumkan. Setiap benda ini memiliki kecepatan khusus dan garis edar
tempat ia bergerak sehingga tidak terjadi benturan antara satu dengan
lainnya, yang dapat menyebabkan kehancurannya.Kecepatan antara satu
benda dengan benda yang lainnya, yang terdapat dalam satu gugusan tidak
sama. Karena jika masing-masing memiliki kecepatan yang sama, bisa
menyebabkan kerusakan sistem yang mengatur gerakan benda ini. Dimana
masing-masing benda langit, memilki gaya gravitasi (saling menarik) dan
gaya penahan (menjauh) yang berbeda[37]

Menurut Dr. Abdul Basith Al-Jamal dan Dr. Daliya Shiddiq Al-Jamal[38],
Para ilmuwan selama ini telah berusaha sekuat tenaga, untuk mengetahui
sistem pembagian garis edar untuk masing-masing benda langit dan ukuran
kecepatan masing-masing serta hubungan satu benda dengan benda yang
lainnya. Hingga mereka menyimpulkan sistem alam semesta ini sebagaimana
yang telah dijelaskan diatas. Fakta ilmiah yang baru terungkap pada abad
19 akhir, dengan bantuan teknologi canggih, telah dijelaskan dengan
indah dan sempurna oleh Al-Qur’an jauh sebelum teknologi canggih ada yaitu pada abad ke 7. 

Atap yang Terpelihara

وَجَعَلْنَا السَّمَاء سَقْفاً مَّحْفُوظاً وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ -٣٢

Dan kami menjadikan langit itu
sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala
tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya
[39]

Sifat langit ini telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke-20. Atmosfer adalah selimut gas yang tak kasatmata setebal 10.000 km yang menglingkupi planet bumi[40].
Atmosfer yang melingkupi planet bumi sangat berperan penting bagi
keberlangsungan kehidupan. Jutaan meteor berbagai ukuran terus menerus
jatuh dari luar angkasa kearah bumi. Walaupun stukturnya transparan,
atmosfer merupakan perisai yang kuat melawan serangan meteor, bagaikan
perisai baja. Kalau tidak karena keistimewaan langit ini (atap yang
terpelihara), tidak akan ada kehidupan di bumi[41]

Atmosfer juga berfungsi
menyaring sinar-sinar berbahaya dari ruang angkasa yang dapat
membahayakan keberlangsungan kehidupan di planet bumi[42]. Sangat
menakjubkan atmosfer, ternyata atmosfer selain berfungsi menyaring
sinar-sinar berbahaya, ia juga meneruskan sinar-sinar yang bermanfaat
bagi kehidupan[43]. Atmosfer juga melindungi bumi dari suhu luar
angkasa yang sangat dingin (membeku), temperatur rata-rata diluar
angkasa adalah -270o celcius[44]

Atmosfer mencegah energi
(berbahaya) yang datang ke bumi kembali ke angkasa. Selain itu atmosfer
juga menjaga keseimbangan dengan membagi panas secara merata. Langit
juga mempunyai sabuk Van Allen yang juga melindungi bumi yaitu melindungi dari hujan radiasi, yang ditimbulkan oleh matahari dan bintang-bintang lainnya[45]. Jika tidak ada atmosfer dan sabuk Van Allen ini, dapat dipastikan tidak ada kehidupan di planet bumi ini. 

Atap yang terpelihara
dalam surah Al-Anbiya’ ayat 32 merupakan tanda kekuasaan sang pencipta
yaitu Allah SWT, fenomena yang terjadi tidaklah mungkin sesuatu yang
kebetulan, logika dan hati kita akan menolaknya. Begitu juga, kita akan
menolak jika Al-qur’an itu dikatakan sebagai produk akal
dan kepintaran manusia. Keserasian dan kesempurnaan yang melingkupi
semua fenomena alam semesta, tidak ada cacat sedikit pun, telah
membuktikan bahwa ada yang telah menciptakan, mengatur, dan
memeliharanya, dialah Allah SWT. Maha benar Allah dengan segala
firmannya. 

Langit yang Mengembalikan

Demi langit yang mengandung hujan 

kata raj’i yang ditafsirkan oleh sebagian ahli tafsir sebagai “mengadung hujan” dan juga bermakna mengirimkan atau mengembalikan[46].
Atmosfer yang melingkupi bumi terdiri dari sejumlah lapisan. Fakta
ilmiah telah mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan ini memiliki fungsi
mengembalikan benda-benda atau sinar yang mereka terima ke ruang angkasa
atau ke arah bawah, yakni ke bumi[47]. Fungsi “pengembalian” dari lapisan-lapisan yang mengelilingi bumi tersebut, yaitu[48]

1. Lapisan Troposfer, 13 hingga 15 km
di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan
bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai
hujan.

2. Lapisan ozon, pada ketinggian 25
km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraviolet yang datang dari
ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa.

3. Ionosfer, memantulkan kembali
pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya,
persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan
komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak
yang cukup jauh.

Fungsi lapisan-lapisan langit yang hanya
dapat ditemukan secara ilmiah di masa kini tersebut, telah dinyatakan
berabad-abad lalu dalam Al Qur’an. Ini sekali lagi membuktikan bahwa Al
Qur’an adalah firman Allah SWT.

You may also like...

0 thoughts on “Kemukjizatan Al-Qur’an : Astronomi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *